Sembilan Bulan yang Lalu
Sembilan
Bulan yang Lalu
Tepat pukul lima sore, hujan yang
mengguyur Depok berhenti, meskipun masih meninggalkan sedikit gerimis dan sisa
angin yang cukup membuatku kedinginan. Seusai bimbingan dengan dosen, aku
bergegas menuju stasiun untuk pulang. Beberapa orang masih menggunakan payung
untuk berlindung dari terpaan angin dan gerimis, tapi tidak denganku. Rasa
dingin dan basah tak berarti apa-apa lagi semenjak cobaan yang lebih berat
sudah pernah kurasakan sembilan bulan yang lalu.
Sore itu stasiun kampusku ramai.
Mungkin orang-orang juga memutuskan untuk pulang setelah hujan berhenti dan
gerimis mampu diterjang. Kereta ke arah Bogor penuh sesak, tak ada ruang untuk
bergerak. Banyak yang turun karena merasa telah sampai di tujuan, tapi lebih
banyak lagi yang naik karena ingin sampai ke tujuan. Kereta itu berjalan,
rantai pembatas peron dibuka oleh satpam. Aku dan rombongan orang menyebrang ke
peron arah Jakarta. Tak lama kemudian, bel stasiun berbunyi dengan diikuti
suara petugas kereta api yang menginformasikan bahwa kereta Jakarta Kota akan
segera masuk stasiun. Benar saja, rangkaian kereta itu datang dan berhenti
tepat di depanku. Aku naik gerbong keempat dari belakang—gerbong umum.
Beberapa orang berlarian mencari
tempat duduk kosong, sedangkan aku? Berjalan dengan pasrah, sama sekali tak
berharap dapat tempat duduk. Aku sudah pernah merasakan lelah yang lebih berat
sembilan bulan yang lalu, dan ini tak seberapa untukku. Pintu kereta tertutup,
kereta mulai berjalan. Aku berdiri di depan pintu masuk—agak ke pinggir—sebelah
kanan dari laju kereta. Itu pintu yang akan terbuka jika sampai di stasiun. Aku
berpegangan pada tangkai besi yang menempel pada tempat duduk.
Saat sedang menatap ke arah luar,
melihat jalan raya basah yang dipenuhi kendaraan, bahuku disentuh oleh
seseorang. Aku sedikit terkejut dan kemudian menoleh. Seorang pemuda berambut hitam
tebal dan sedikit basah berdiri tegap menatapku,
“Duduk saja di kursiku, biar aku
yang berdiri,” tak pakai basa-basi, ternyata ia ingin mempersilakanku untuk
duduk.
“Oh, tidak usah. Tidak apa-apa, aku
berdiri saja,” merasa tak enak padanya.
“Kau perempuan, aku laki-laki.
Duduklah,” timpanya lagi.
“Takut ada orang yang lebih
membutuhkan tempat duduk dibanding aku,” aku berusaha menolak dengan cara halus.
“Tenang saja, nanti pasti akan ada
yang turun di stasiun berikutnya,” ia mencoba meyakinkanku.
“Baik, terima kasih,” akhirnya aku
luluh.
Aku duduk di tempat yang ia duduki
sebelumnya. Perasaanku biasa aja, hanya merasa tak enak, tapi ya sudahlah. Gantian,
ia kini berdiri di dekat pintu di sebelah tempat dudukku. Setiap berhenti di
stasiun, aku selalu siap untuk merelakan tempat duduk ini jika nanti ada
orang-orang yang lebih membutuhkan, tapi ternyata Tuhan baik, aku duduk sampai
tiba di stasiun tujuan.
Sesampainya di stasiun tujuan, aku
bergegas keluar ketika pintu kereta telah terbuka. Hari sudah semakin sore, aku
harus cepat sampai rumah sebelum larut malam. Ketika akan menuruni peron untuk
menuju tap gate, hujan kembali turun
dengan deras. Ah, sial!, aku kecewa
pada Tuhan.
Aku terdiam, rasa kesal berkecamuk
dalam dada. Aku ingin cepat-cepat pesan ojek online, lalu kemudian pulang dan melakukan hal yang sembilan bulan
ini selalu kulakukan—mengurung diri di kamar. Aku benci keramaian. Aku lebih senang
sendiri karena itu berarti aku dapat berhenti mempercayai orang lain.
Saat rasa kesal itu sedang memuncak,
seseorang menyentuh bahuku. Aku sontak naik pitam dan mengeluarkan suara
bernada tinggi.
“Apa, sih!?,” sambil menoleh cepat ke arah orang itu.
“Oh, maaf. Maaf, aku tak bermaksud
membuatmu kesal. Aku hanya ingin menawarkan tempat duduk di sana...,” sambil
menunjuk ke arah tempat duduk di peron yang sudah diduduki orang lain.
Aku benar-benar merasa tak enak
sudah menggentaknya. Biar bagaimana pun, ia tak tahu jika aku sedang marah pada
Tuhan atas segala hal yang terjadi dalam hidupku.
“O, o, oh, maaf. Maaf ya,” aku tak
bisa berkata lebih banyak lagi selain minta maaf.
“Iya, tidak apa-apa. Kau baik-baik
saja? Aku melihatmu sejak di kereta seperti orang yang sedang menahan marah dan
ingin meluapkannya. Tapi, kuharap sekarang kau sudah lega karena telah
meluapkannya padaku,” ia tersenyum, tapi senyum yang tulus.
Aku hanya diam. Orang ini hebat
dalam benakku. Ia bukan melihatku sebagai sosok perempuan biasa. Ia bisa
melihat sisi terdalam yang aku sembunyikan. Ah,
tapi siapa dia? Aku tak kenal dan tak mau kenal. Aku tak butuh orang lain di
dunia ini, egoku kembali merasuk.
“Perkenalkan, aku Ahmad. Aku juga
berkuliah di kampus yang sama denganmu. Kau tadi naik dari stasiun kampus, kan?,” ia memperkenalkan dirinya. Kali
ini, orang ini tak hebat. Ia malah mengajakku berkenalan, padahal hatiku tak
ingin sama sekali. Ah, bagaimana ini? Apa
aku harus memperkenalkan diriku juga? Tidak!
“Oh, oke...,” kujawab dengan
singkat.
“Kalau namamu?,” ia malah
memancingku.
“Aku Putri,” jawabku ketus.
“Oh, salam kenal ya, Putri,” ia
tersenyum, senyum yang tulus, bukan modus.
Aku kembali memikirkan bagaimana
caranya untuk pulang melawan hujan sederas ini. Pasti pesanan ojek online-ku tidak akan ada yang mengambil.
Hujannya terlalu deras dan sebagian besar jalan arah pulang dikepung banjir.
Kali ini aku sama seperti sembilan bulan yang lalu—setelah marah, aku
melanjutkannya dengan pasrah.
Tunggu
dulu, laki-laki ini tetap berdiri di sampingku. Sebenarnya apa yang ia mau?, aku benar-benar heran.
Tepat di dekat tap gate, ada sebuah kedai kopi yang tak terlalu ramai jika
diperhatikan. Orang-orang mungkin bosan minum kopi dan lebih memilih menunggu
hujan berhenti sambil bermain smartphone.
“Ayo, ikut aku!,” ia menarik
tanganku, tapi bukan tarikan kasar.
“Hei, lepaskan! Kau mau bawa aku ke
mana?,” aku mencoba melepaskan pegangannya.
Ia membawaku berjalan ke dalam kedai
kopi itu. Sesampainya di dalam, baru ia lepaskan pegangannya. Ia melihat
barisan menu yang tepat berada di depan kasir.
“Espreso hangat satu. Kau mau pesan
apa?,” memesan pada pelayan sekaligus bertanya padaku.
Aku terdiam sejenak menatap matanya.
Masih tak percaya atas perlakuannya padaku, padahal kami baru bertemu.
“Aku tidak pesan apa-apa. Aku mau
pulang,” sembari membalikan badan ke arah pintu.
“Di luar masih hujan deras. Di peron
tidak ada tempat duduk. Jadi, aku bawa kau ke sini agar bisa duduk sambil
menunggu hujan berhenti. Aku tidak punya niat jahat padamu.”
Jawabannya membuat tubuhku kaku. Aku tidak punya niat jahat padamu. Sudah
sembilan bulan aku berusaha keras untuk tidak percaya pada siapa pun, semenjak
rasa percayaku runtuh dan meninggalkan bekas luka yang sulit untuk sembuh. Aku
kembali membalikan badan ke arahnya.
“Teh hangat satu,” aku memesan pada
pelayan yang kemudian mencatatnya.
“Roti rasa original dua,” tambahnya.
Kami duduk dekat jendela. Aku dapat
melihat hujan masih turun sangat deras. Aku menghela napas dalam-dalam. Kali
ini, aku berusaha untuk percaya pada orang lain setelah sembilan bulan aku
berhenti melakukan itu. Kembali berkenalan dengan orang baru, bahkan duduk di
dalam kedai kopi bersama. Apakah ini
titik balik dalam hidupku? Tak lama kemudian, pelayan mengantar pesanan
kami.
“Rumahmu di mana?,” ia memulai
pembicaraan.
“Jauh dari sini,”
“Lalu kau pulang dengan siapa? Naik
apa?,”
“Aku biasa pesan ojek online,”
“Oh, begitu. Hm, apa aku boleh
bertanya sesuatu padamu?,”
“Apa?,”
“Kau kenapa? Kenapa raut wajahmu
seperti menyimpan dendam dan amarah?,”
“Apa itu penting untuk kau tahu?,”
“Mungkin tidak. Tapi, aku berdosa
ketika tahu seseorang butuh bantuan dan aku malah membiarkannya,”
“Bantuan? Aku tidak butuh bantuan
apapun,” tandasku.
“Aku tahu kau menyimpan kesedihan
dan kemarahan yang telah lama kau pendam sendiri. Aku ingin membantumu dengan
cara menjadi pendengarmu atau bahkan menjadi tempat kau melampiaskan
kekesalanmu,”
Mataku memerah, aku terisak diiringi
suara gemuruh petir yang begitu keras. Laki-laki ini seperti mencabut duri yang
telah lama menancap di kulitku. Atau seperti memberikan obat merah pada luka di
tubuhku.
“Aku kehilangan laki-laki yang
sangat aku cintai. Laki-laki yang berjanji akan datang ke wisudaku tahun depan
dengan menggunakan jas. Laki-laki yang selama ini selalu bertanya kabar dan
keberadaanku saat aku jauh darinya. Laki-laki yang selalu menungguku pulang di
depan pintu rumah. Laki-laki yang juga berjanji menjadi waliku saat aku menikah
nanti. Laki-laki itu adalah ayahku. Laki-laki paling berharga dalam hidupku dan
satu-satunya yang dapat membuatku bahagia. Dokter yang aku beri kepercayaan
penuh, ternyata tak mampu menyelamatkan nyawanya. Keluarga yang kukira akan
berontak seperti aku di rumah sakit kala itu, ternyata hanya tertunduk lesu dan
pasrah. Aku benci semua orang dan tak mau percaya lagi pada siapapun, bahkan
penciptanya,” tangisku pecah, kilat memecah langit dengan suara yang membuat
orang-orang di stasiun menjerit menyebut nama Tuhan.
“Kau tahu, Tuhan itu Mahabaik.
Jangan membencinya. Kau tahu, keluargamu juga merasa sangat kehilangan Ayahmu.
Jangan membenci mereka. Kau tahu, dokter sudah mengusahakan yang terbaik untuk
menolong Ayahmu. Percayalah.”, ia berbicara dengan nada tenang sambil
menggenggam tanganku.
“Apa buktinya? Toh, tetap saja aku kehilangan Ayahku dan mereka tak bisa membuat
Ayahku tetap ada di dunia ini,” aku masih merasa tak terima.
“Tuhan sayang padamu dan sangat
sayang pada Ayahmu. Ia tak mau Ayahmu menahan sakit terlalu lama. Ia tak mau
kau dan keluarga terus hidup dirundung duka. Ia pun tetap memberikan kesempatan
kepada dokter untuk menunaikan kewajibannya untuk menolong Ayahmu. Percayalah
rencana Tuhan jauh lebih baik dari rencanamu. Dan percayalah, Ayahmu kini telah
bahagia karena bukan hanya bisa menunggumu pulang, tapi bisa selalu menemani ke
mana pun kau pergi, termasuk saat ini,” ia menguatkanku.
Tangisku berhenti. Napas panjang
kuhembuskan. Dadaku kini tak sesak lagi. Rasa sedih dan amarah yang kupendam
selama sembilan bulan ini seketika pergi. Aku kembali percaya bahwa Tuhan
Mahabaik, hanya saja aku tak mampu membaca kebaikan Tuhan. Sembilan bulan yang
lalu akan selalu menjadi pelajaran berharga dalam hidupku. Ayahku akan selalu
ada di dalam hatiku dan tetap menjadi laki-laki nomor satu yang aku cintai di
dunia ini.
Perlahan tapi pasti, hujan berhenti
dan membuat langit malam terlihat terang.
For your information :
Cerpen ini merupakan karya ORIGINAL yang pernah digunakan untuk perlombaan Short Story National Competitions by Kreatory. Meskipun tidak menang, tetapi sangat bangga karena pernah ikut berkompetisi.

Komentar
Posting Komentar