Tentang Kemarin
Sudah lama aku tak jumpa dirinya.
Melihatnya kemarin, seperti bukan dia yang dulu kukenal.
Rupanya masih sama,
tapi hatinya kini berbeda.
Bukan dia yang dulu selalu ceriakan hariku,
bukan dia yang dulu bahagiakan hidupku.
Aku masih mengenal sosoknya,
hanya saja aku tak tahu kini siapa dirinya,
apa isi hati dan pikirannya.
Aku kini buta, tak lagi mengenalnya.
Aku yakin ini memang jalan dari Tuhan,
tapi kenapa harus aku yang merasakan?
Kenapa bukan orang lain yang lebih kuat dari diriku?
Andai bisa kuputar kembali waktu,
aku tak akan mau mengenalnya.
Biarpun dia sempat membuat hidupku penuh warna,
namun kini nyatanya dia pula yang mengubah semuanya menjadi gelap gulita.
Tuhan, salahku apa?
Sebab bagiku dia tak pernah salah,
bahkan sekalipun dia yang sudah membuat hatiku patah,
dia tetap tak pernah salah.
Bagaimana denganku?
Apa salahku?
Melihatnya kemarin, seperti bukan dia yang dulu kukenal.
Rupanya masih sama,
tapi hatinya kini berbeda.
Bukan dia yang dulu selalu ceriakan hariku,
bukan dia yang dulu bahagiakan hidupku.
Aku masih mengenal sosoknya,
hanya saja aku tak tahu kini siapa dirinya,
apa isi hati dan pikirannya.
Aku kini buta, tak lagi mengenalnya.
Aku yakin ini memang jalan dari Tuhan,
tapi kenapa harus aku yang merasakan?
Kenapa bukan orang lain yang lebih kuat dari diriku?
Andai bisa kuputar kembali waktu,
aku tak akan mau mengenalnya.
Biarpun dia sempat membuat hidupku penuh warna,
namun kini nyatanya dia pula yang mengubah semuanya menjadi gelap gulita.
Tuhan, salahku apa?
Sebab bagiku dia tak pernah salah,
bahkan sekalipun dia yang sudah membuat hatiku patah,
dia tetap tak pernah salah.
Bagaimana denganku?
Apa salahku?
Komentar
Posting Komentar