Aku Lupa Pernah Jatuh Cinta
Suatu sore di sebuah taman bersama seorang teman.
Ia bertanya padaku "Seperti apa ya rasanya jatuh cinta?".
Seketika aku terpaku, diam membisu.
Ia kembali bertanya "Apa kau pernah merasakannya?".
Aku tak tahu ada apa dengan sore ini, taman ini, atau temanku ini.
Pelan-pelan kucoba membuka mulutku dan mencoba menjawab dengan gugup,
"Aku lupa."
Ia terheran, "Maksudmu? Aku tak mengerti. Bagiku jawabannya hanya pernah atau tidak pernah."
Aku tak tahu harus menjawab apa lagi. Aku hanya terbungkam.
Ia mencoba menegaskan kembali pertanyaannya "Maksudmu apa? Kau pernah atau tidak?".
Aku ragu, "Aku tak tahu, aku lupa. Bagiku cinta itu dirasa bukan diingat."
Ia semakin tak mengerti, "Ah, kau ini. Katakan saja yang sejujurnya. Setiap yang dirasa pasti diingat."
Aku menoleh ke sekeliling kami.
Ia bertanya kembali "Kenapa? Kau takut ada orang lain yang akan mendengar ceritamu?".
"Tidak. Lagi pula, aku tidak ingin bercerita. Cerita itu telah usai. Aku sudah lupa.", kataku.
Angin berdesir meniup dedaunan yang gugur, ranting yang kering, dan bahkan daun pada pohon yang kuat.
"Jadi, kau pernah jatuh cinta?", ia masih bertanya.
"Kau saja dulu, apa kau pernah jatuh cinta?", aku balik bertanya padanya.
Ia menjawab sambil bergumam, "Ah, kau selalu saja membalikan pertanyaan pada orang yang bertanya. Aku belum pernah, itulah sebabnya aku bertanya padamu."
"Tak perlu kuberi tahu, kau akan mengerti bila sudah tiba saatnya nanti." jawabku yang tak menjawab pertanyaannya.
"Kata orang jatuh cinta itu indah, tapi beberapa dari mereka juga berkata bahwa jatuh cinta itu menyakitkan. Kenapa bisa begitu ya?", tanyanya bingung.
Aku menghembuskan napas panjangku sebelum siap menjawabnya.
Burung-burung hinggap di atas pohon dan berkicau, membuat suasana tidak sesepi hati ini.
"Jatuh cinta itu indah bila perasaanmu berbalas, bila kau tak jatuh sendiri, bila ada yang merengkuh dan mengajakmu berdiri. Namun, beberapa orang lupa kalau jatuh cinta tak selalu seperti itu. Beberapa orang hanya siap dengan kemungkinan terindah, tapi tidak dengan kemungkinan terburuk, salah satunya aku." jelasku.
"Jadi, bagaimana jatuh cinta menurutmu?", tanyanya dengan ragu.
"Menurutku, jatuh cinta adalah hal paling mendewasakan di dunia. Jatuh cinta mengajarkanmu tentang bahagia dan kecewa, tentang senang dan sedih, tentang berharap dan beranjak, tentang memulai dan mengakhiri, tentang menggenggam dan melepaskan, tentang berhenti dan mencari, tentang bertemu dan berpisah, tentang menyesali dan mengikhlaskan, tentang banyak lagi yang bisa kau rasakan. Rumit tapi kau tetap memperjuangkannya. Kompleks tapi kau tetap menjalaninya. Terlalu luas jatuh cinta menurutku, sampai-sampai aku lupa pernah jatuh cinta.", aku menjawabnya dengan airmata yang ternyata sudah mengalir.
Komentar
Posting Komentar